BAHAYA...!!!POST-MODERNISME BERKARYA...!!!
Ehm,ini adalah hasil editannya.Thanks bwat yang udah memberi masukan (feby en kak audriel). Ditunggu masukannya pula utk artikel akapela lainnya yah (ane juga musti lah!masa nyuru2x orang laen tapi sendirinya ga ngerjain?)
Judul di atas bukan sembarang nulis lho!kita sekarang mesti kudu hati-hati ama arus filsafat yang sedang melanda dunia ini. Sapa bilang kalo kita ini ada di jaman modern? Asal tau aja, filsafat modern uda lama ditinggalin. Ane akan coba jelasin sejarahnya dulu ya. Ketika teknologi di dunia sudah mulai menampakkan taringnya (baca: maju) yang ditandai dengan revolusi industri di mana-mana, orang mulai berpikir bahwa teknologi bisa memecahkan SEMUA persoalan di dunia. Sungguh pemikiran yang lugu namun optimistis mengingat tadinya manusia tidak bisa terbang lalu voila! ditemukanlah (baca:diciptakan) pesawat terbang oleh Sir George Langley yang pertama-tama lalu Wilbur dan Orville Wright (baca:Wright bersaudara). Permasalahannya muncul ketika semua manusia mendewa-dewakan rasio (dengan kedok teknologi). Mereka begitu bersukacita ketika akhirnya mereka menempatkan rasio sebagai otoritas tertinggi lalu menggunakan otoritas tertinggi tersebut untuk memecahkan persoalan dunia.
Inilah filsafat modernisme itu!bagaimana manusia memutlakkan rasio dan menempatkan rasio sebagai otoritas tertinggi dalam hidupnya (bukannya Tuhan YME!). Lalu apa hasilnya? Saat mereka mengelu-elukan filsafat modernisme, bukannya semua persoalan dunia terselesaikan, malah meletus dua perang dunia yang tidak akan pernah dilupakan manusia (PD I & PD II). Lalu bagaimana setelah itu? Orang-orang tentu kecewa dengan filsafat modernisme yang begitu optimis namun malah menyerang balik kepada masyarakat itu sendiri. Inilah akhir yang mengenaskan bagi filsafat modernisme. Mereka berpikir kalo memutlakkan rasio dan menempatkannya pada otoritas yang tertinggi ternyata gagal maka jalan keluarnya adalah dengan tidak memutlakkan apa-apa. Dengan kata lain adalah "semua hal itu relatif, tidak ada yang mutlak"(bukannya kembali kepada Tuhan YME, malah makin ngawur aja!). Wilkommen!selamat datang di era filsafat post-modernisme.
Mereka (baca:orang-orang yang berpola pikir post-modern) menerima narasi masing-masing figur namun menolak metanarasi. Kata-kata yang paling sering kita dengar mengenai filsafat ini adalah "yah,itu kan bener menurut elo,menurut gw sih beda tapi kita gak usah saling ganggu lah.gimana?"Keliatan secara kasat mata bahwa pernyataan tadi adalah bentuk suatu toleransi namun sebenarnya ini adalah filsafat post-modernisme. Pernyataan tadi jelas-jelas ingin menunjukkan bahwa kebenaran itu terletak pada individunya. Individulah yang berhak menentukan yang mana yang benar dan mana yang salah. Ini adalah suatu kesalahan!suatu kebenaran tidak perlu individu yang menentukannya. Kebenaran itu self-sufficient dan benar pada dirinya sendiri. Misalnya 1+1=2 lalu ada 10.000.000 orang bilang 1+1=3 lantas 1+1 menjadi 3?kan enggak! Teori filsafat post-modernisme itu adalah "semua hal itu relatif, tidak ada yang mutlak" dan "yang ada hanyalah narasi masing-masing figur,tidak ada metanarasi".
Sebenarnya, jika kita telaah lebih lanjut kedua teori ini, ada lubang yang sangat dalam ditinggalkan oleh Jacques Derrida, Michel Foucault, Jean-Francois Lyotard, dan Jean Baudrillard (bapak-bapak post-modernisme). Saat mereka mengatakan bahwa tidak ada yang mutlak, justru ada yang mereka mutlakkan yaitu teori bahwa tidak ada yang mutlak (sungguh IRONIS!). Saat mereka mengatakan bahwa tidak ada metanarasi melainkan narasi masing-masing figur, justru mereka sedang me-metanarasi-kan teori tersebut (kembali suatu ke-IRONIS-an!). Inilah yang disebut self-defeating concept! Kita benar-benar harus berhati-hati dengan filsafat ini karena mereka sedang mau merelatifkan iman kepercayaan kita. Bahkan, lebih radikal lagi, merelatifkan the GOD's existence. Wah, malah makin kacau jadinya kalo gini. Sekarang, kita tidak bisa lagi mengoreksi kesalahan yang dibuat orang lain. Kenapa begitu? Yah, karena filsafat post-modernisme tadi. "Lo bener, gw juga kagak salah (baca:bener juga) yaudah kita sama-sama bener lagian juga ga ada yang bener-bener benar kok!santai aja lah!". Coba, gimana caranya kita ngoreksi orang yang udah ngomong kayak gini? Susah kan!
Pertama yang harus kita lakukan adalah menempatkan Tuhan YME pada otoritas yang tertinggi dalam hidup kita (tidak perlu memutlakkan Tuhan karena Tuhan sendiri sudah mutlak pada dirinya sendiri tidak perlu kita capek-capek membuktikannya). Lalu kita ingatkan teman-teman kita akan bahaya filsafat ini (misalnya dengan membuat post kayak gini neeh.hehe). Yah, emang ini kerjaannya filsafat, agama menjawab pertanyaan dan filsafat mempertanyakan kembali jawaban tersebut (gak abis-abis deh). Selamat datang di peperangan intelektual dan selamat bergabung.
stevi-13406138




There
Stev, post yang bagus, tapi lebih bagus lagi kalau dalam bentuk paragraf.. Pusing euy bacanya. x_X
Setuju, tolong edit lagi ya Stev. Sayang, tulisan bagus gini jadi ga enak dibaca cuman gara-gara tulisannya ga rapih.
yap! BINGO o_O klo ga ada yg salah, trus tolak ukur qta apa?? yg bisa ngebedain yg mana salah dan bener apa coba?? wakakaka... ada2 aja nih teori! tengqiu stevi..God bless you