<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/3595556366236942779?origin\x3dhttp://akapela-mti-itb.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Banyak anak banyak rezeki...

Judulnya rada ga penting yak?! hehe... Sbenernya ini gara2 abis seminar menggagas kemandirian bangsa tadi. Trus Pak Ichsanudin Noorsy ngasi thesis 'banyak anak banyak rezeki'. Ini bukan nentang program KB pemerintah loh! He... Dibalik slogan (atau apapun namanya...) itu ada artinya. Katanya tadi, ungkapan itu emang bener. Coba deh dipikir. Klo satu kluarga anaknya lima, trus lima-limanya sekolah tinggi, punya kerjaan bagus, banyak rejeki kan?? Nah, ini yang dianalogiin sama keadaan bangsa kita. Ibu pertiwi punya anak bangsa banyak banget. Harusnya banyak rezeki dong! Knapa kenyataannya nggak, karena anak-anaknya ga dididik dengan bener. Jadi inget omongan guru sejarah pas sma dulu. Masalah pendidikan, pengangguran, sama kemiskinan itu kayak lingkaran setan. Klo mau ngapusin kemiskinan harus benerin pendidikannya dulu. Biar anak-anak yang lahir ga dianggap sebagai penambah jumlah kepadatan penduduk, tapi sebagai pembawa banyak rezeki...
maap klo ga nyambung... hehe...
-asti06168-

There