<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/3595556366236942779?origin\x3dhttp://akapela-mti-itb.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Budaya Solutif

ada suatu fenomena menarik yang ada di MTI (bahkan gw rasa di ITB --juga bisa di Indonesia). fenomena itu adalah saat kita berdiskusi, pasti banyak orang yang akan berpendapat. dengan kata lain, yang tidak tertarik atas diskusi tersebut, bisa jadi dia akan malas berpendapat.

berpendapat, berargumen, berpersuasif dan sebagainya; kita bisa golongkan itu ke dalam kebebasan berbicara. Indonesia menjaminnya lewat pasal 28 UUD 1945. yang jadi masalah adalah saat orang semua ingin didengar pendapatnya dan akibatnya semakin lama pula bahasan suatu topik yang menyebabkan proses-proses lainnya terlambat pula.

so..gw ucapkan selamat datang di Indonesia kalo teman-teman semua menyadarinya. selamat datang di budaya berpendapat.

lewat tulisan ini, gw mo mengkritisi budaya ini. entah itu yang sudah terjadi di MTI --dalam RA, rapat, dsb; atau di ITB --dalam KM, kongres, dsb; atau di Indonesia --dalam DPR,MPR, lembaga negara, ke-Presiden-an, dsb. budaya ini tampaknya budaya yang harus di 'extend' (baca : dikembangkan). artinya, budaya ini bukan untuk di cegah tapi di kembangkan dan 'memang' harus di kembangkan.

suatu hal yang sering gw lihat disini adalah saat kita berpendapat kadang kala kita hanya menyampaikan unek2 kita tapi tanpa solusi. 'Talking without solution' adalahs sama saja membuat suatu perdebatan, suatu rapat akan menjadi debat kusir; tidak ada habisnya dan tidak ada selesainya. kita ambil contoh RA-MTI. kalo teman-teman perhatikan, sering kali yang terjadi adalah seperti rapat dengar pendapat. banyak kejadian di RA yang harusnya diselesaikan dengan solusi, kadang kala di tambah ruwet dengan pendapat. pendapat tersebut bukannya buruk, tapi alangkah baiknya kalo diberikan solusi penyelesaiannya juga.

hal lain yang terjadi di RA-MTI adalah saat moderator tidak bisa memutuskan solusi yang diberikan untuk masalah. entah karena solusi terlalu banyak, ato se-akan2 tidak berwenang untuk memutuskan, sehingga se-akan membuat peserta RA 'diberi angin' untuk kembali melancarkan 'pendapat lain'; yang akibatnya suasana rapat seakan 'chaos'. alhasil pula, RA yang harus memakan waktu t menit, bisa menjadi t+x menit; dimana 'x' tersebut tidak kecil.

sebuah solusi yang saya tawarkan adalah mungkin kita harus mencontoh barat dalam berdiskusi. kita batasi waktu pembahasan suatu masalah. saat diberikan waktu tersebut, anggota boleh memberikan pendapatnya + solusi + kelebihan dan kekurangan solusi mereka (bila bisa diberikan). moderator mencatat seluruh solusi + kelebihan dan kekurangan. saat waktu habis, bila belum keluar suatu solusi, moderator (pimpinan) yang berhak menentukan solusi mana yang dipakai.

memang akan ada kelemahan dari metode ini, seakan kesempatan berbicara orang dibatasi. tapi bagaimana juga ini adalah sebuah trade-off. anggota harus bisa mengoptimalkan waktu yang tersedia untuk meyakinkan bahwa solusi-nya yang terbaik. bila dia bisa meng-kampanye-kan solusi-nya dengan baik, pasti solusi tersebut akan dipakai. ini politik, bukan?! kemudian, anggota lain juga harus mematuhi solusi yang telah ditetapkan. mau atau tidak. terpaksa atau suka-rela. bagaimana-pun juga salah mereka yang tidak mau memberikan solusi bila ternyata solusi yang tidak sesuai dengan keinginan yang dipilih.

semua metode akan ada kelebihan dan kekurangan. tapi yang jelas kita harus berani berubah mencoba menggunakan suatu metode dan metode lain, sampai kita tahu ini adalah metode yang optimal bagi kita semua. so, moga2 tulisan ini berguna untuk MTI mendatang. bagaimana-pun juga kita tidak boleh menutup mata bahwa saat RA di-ada-kan, kita telah men-trade-off waktu (yang berharga) untuk mendengarkan dan berpendapat dalam RA tersebut. gunakan waktu yang sudah diberikan tersebut dengan optimal dan tidak bertele-tele.

bila ini bisa berjalan dengan semestinya, seharusnya anggota pun akan datang RA dengan senanghati karena akan mengerti bahwa waktu yang dia sediakan untuk rapat RA adalah pukul a s/d b bukan pukul a s/d selesai (suatu keadaan kualitatif). kita lihat apakah budaya solutif ini bisa berbicara banyak di MTI yang selalu butuh solusi.



PEACE
Hardian Prabianto
13405097

There

  1. Blogger -AuDrIeL- | June 30, 2007 at 5:49 AM |  

    Didi~

    Waw, debat kusir... *teringat kesalahan lalu* Kadang-kadang suka susah juga biar ga debat kusir.

    Emang lebih bagus kalau bisa ngasih solusi sekalian, tapi ga semua orang punya kemampuan itu. Ngasih pendapat/pandanga aja udah sangat bagus, daripada diem aja.