<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/3595556366236942779?origin\x3dhttp://akapela-mti-itb.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Edensor

Edensor merupakan novel Andrea Hirata yang ketiga setelah Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Berbeda dengan dua buku sebelumnya yang mengambil tempat di Belitong, kali ini Andrea banyak mengisahkan petualangannya di luar negeri, terutama Paris, Perancis (jalan cerita novel-novel Andrea memang sebagian besar diambil dari pengalaman pribadinya).

Alkisah, Andrea Hirata bersama dengan sepupunya, Arai (diceritakan lebih rinci di “Sang Pemimpi”), mendapat beasiswa kuliah di Universitas Sorbonne. Andrea mengambil studi ekonomi sementara Arai biologi. Digerakkan keinginan untuk menjelajah dunia, pada saat liburan mereka memutuskan untuk mengamen dari satu kota ke kota lain. Ada semacam perlombaan kecil di antara kawan-kawan sekelas Andrea. Yang paling banyak mengunjungi tempat, dialah pemenangnya.

Selain itu, rupanya Andrea juga punya misi lain: menemukan cinta masa kecilnya yang bernama A Ling.

Cerita pun berputar-putar di situ, hingga pada akhirnya Andrea Hirata sampai ke kota Edensor – kota yang selama ini hanya ada dalam bayangannya saja, yang terdapat di novel karya Herriot (kenangan A Ling untuknya).

Yang mengagumkan dari novel ini, sebagaimana novel-novel sebelumnya, adalah metafora yang dipakai. Sang pengarang seolah tak pernah mengalami kesulitan diksi. Juga di novel ini, ada bagian-bagian di mana sang pengarang menyampaikan nuansa humoris dan juga sinisme yang kuat.
Sayangnya, nama-nama tempat terlalu banyak dipaparkan sehingga berpotensi membuat pembaca hilang fokus.

There

  1. Anonymous Anonymous | June 8, 2007 at 5:32 AM |  

    hwaaa...harus baca ni!
    andrea hirata emg inspiring bgt!