Katanya Nasionalis, Tapi….
“kemaren tuh happening moment banget ya”
“ya ampun mbak, what make you so sad??”
“ih, tuh baju sophisticated banget deh”
Itu sebagian dari percakapan orang-orang yang pernah saya denger. Bisa nebak kan saya mau bahas apa? Yup betul, Bahasa Indonesia yang entah kenapa perlahan-lahan digeser sama bahasa lain, terutama Bahasa Inggris. Hal ini ngga cuma saya lihat di percakapan, tapi juga di nama (Neil’s Tailor, Cibubur Junction, dll), di TV (Famous to Famous, Good Morning, the Breakfast Club, dkk), atau di motto (menurut saya motto padanan tagline, maaf klo salah ^^) acara/organisasi (how deep is your math, we care we share). Apa yang salah sih sama Bahasa Indonesia? Emang segitu norak ya sampai-sampai untuk komunikasi sehari-hari aja mesti nyelipin bahasa lain? Kenapa kita ngga kaya orang Jepang yang bangga memakai bahasanya sendiri? Walau jangan sampai ngga belajar bahasa lain sih…
Saya akui, kadang-kadang saya juga memakai Bahasa Inggris untuk berbicara, dengan niat agar terlihat wah, mempersingkat percakapan, atau sekedar nyeplos aja kluar dari mulut saya. Tapi sekarang saya berpikir, apakah niat-niat tersebut bisa mengalahkan niat para pemuda yang bersumpah pada tahun 1928 akan memakai Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan? Niat saya yang dangkal kalah jauh dengan niat mulia mereka. Jadi kenapa saya harus mempertahankan kebiasaan itu?
Saya sering mikir: saya cinta Indonesia, saya nasionalis, saya bangga jadi orang Indonesia. Tapi apa yang sudah saya lakukan untuk Indonesia? Dukung timnas tanding langsung dari Senayan? Make merek dalam negeri? Atw malah saya cuma sekedar bangga aja? Ngomong doang aje nih saya, make Bahasa Indonesia aja males, baik untuk ngomong, nulis, atw bwt jadi motto…. Padahal Bahasa Indonesia itu salah satu hal yang penting banget di negara ini, dan untuk mempraktekkan itu saya ngga perlu kluar duit sama sekali.
Emang sih, banyak istilah bahasa Inggris di berbagai bidang yang susah di-Indonesia-kan, ky download, online, stapler, dll. Kita tau merek internasional (Shower to Shower, Sweety, dkk) dan mottonya (I’m lovin it, digitally yours, dll) ngga bisa dialihbahasakan, dan emang kita sebaiknya memakai bahasa Inggris saat berkomunikasi dengan orang luar negeri. Paling ngga, Bahasa Indonesia dipakai untuk percakapan sehari-hari. Ngga usah resmi sih, yg penting pake Bahasa Indonesia, saya aja ngomong masi Betawi banget+klo nulis masih amburadul. Dan (yang katanya) TV nasional itu klo bikin acara ngga usah pake Bahasa Inggris segala. Menurut saya, itu hal yang bisa dilakukan untuk membuktikan kita semua cinta Indonesia.
Nur Aisyah Safitri
biasanya sih dipanggil Cici...
13406019
“ya ampun mbak, what make you so sad??”
“ih, tuh baju sophisticated banget deh”
Itu sebagian dari percakapan orang-orang yang pernah saya denger. Bisa nebak kan saya mau bahas apa? Yup betul, Bahasa Indonesia yang entah kenapa perlahan-lahan digeser sama bahasa lain, terutama Bahasa Inggris. Hal ini ngga cuma saya lihat di percakapan, tapi juga di nama (Neil’s Tailor, Cibubur Junction, dll), di TV (Famous to Famous, Good Morning, the Breakfast Club, dkk), atau di motto (menurut saya motto padanan tagline, maaf klo salah ^^) acara/organisasi (how deep is your math, we care we share). Apa yang salah sih sama Bahasa Indonesia? Emang segitu norak ya sampai-sampai untuk komunikasi sehari-hari aja mesti nyelipin bahasa lain? Kenapa kita ngga kaya orang Jepang yang bangga memakai bahasanya sendiri? Walau jangan sampai ngga belajar bahasa lain sih…
Saya akui, kadang-kadang saya juga memakai Bahasa Inggris untuk berbicara, dengan niat agar terlihat wah, mempersingkat percakapan, atau sekedar nyeplos aja kluar dari mulut saya. Tapi sekarang saya berpikir, apakah niat-niat tersebut bisa mengalahkan niat para pemuda yang bersumpah pada tahun 1928 akan memakai Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan? Niat saya yang dangkal kalah jauh dengan niat mulia mereka. Jadi kenapa saya harus mempertahankan kebiasaan itu?
Saya sering mikir: saya cinta Indonesia, saya nasionalis, saya bangga jadi orang Indonesia. Tapi apa yang sudah saya lakukan untuk Indonesia? Dukung timnas tanding langsung dari Senayan? Make merek dalam negeri? Atw malah saya cuma sekedar bangga aja? Ngomong doang aje nih saya, make Bahasa Indonesia aja males, baik untuk ngomong, nulis, atw bwt jadi motto…. Padahal Bahasa Indonesia itu salah satu hal yang penting banget di negara ini, dan untuk mempraktekkan itu saya ngga perlu kluar duit sama sekali.
Emang sih, banyak istilah bahasa Inggris di berbagai bidang yang susah di-Indonesia-kan, ky download, online, stapler, dll. Kita tau merek internasional (Shower to Shower, Sweety, dkk) dan mottonya (I’m lovin it, digitally yours, dll) ngga bisa dialihbahasakan, dan emang kita sebaiknya memakai bahasa Inggris saat berkomunikasi dengan orang luar negeri. Paling ngga, Bahasa Indonesia dipakai untuk percakapan sehari-hari. Ngga usah resmi sih, yg penting pake Bahasa Indonesia, saya aja ngomong masi Betawi banget+klo nulis masih amburadul. Dan (yang katanya) TV nasional itu klo bikin acara ngga usah pake Bahasa Inggris segala. Menurut saya, itu hal yang bisa dilakukan untuk membuktikan kita semua cinta Indonesia.
Nur Aisyah Safitri
biasanya sih dipanggil Cici...
13406019
Labels: Bahasa Indonesia




There
Ci, *tertawa* tulisanmu persis makalah PPKn ku XDDD
Rasanya tagline itu agak mirip slogan deh. Kalau aku sih udah membiasakan menggunakan EYD setiap kesempatan yang didapat, kecuali SMS. Sampe pas buku kenalan pas Osjur salah satu komentarnya: Nisa kalau ngomong baku banget XDD Hampir ga pernah pake gue lo. Ga susah pake saya bahkan *tertawa lagi*
Biasakan aja berbahasa Indonesia sebaik-baiknya, minimal secara tertulis dan dalam situasi formal. Kalau percapakan aja sih ga masalah, toh ada bahasa slang di semua bahasa di dunia :)
Saya setuju...ini masalah kecil yang sebenarnya tidak kecil...(baca:sering dianggap remeh tapi sebenarnya PENTING!).Bahasa adalah bagaimana kita memberi makna kepada sesuatu yang tidak bermakna. Ada baiknya kita tetap mempertahankan bahasa dan segala ejaannya yang kita pakai sekarang. Mengapa harus begitu? Kita harus tetap melestarikan konteks dan definisi yang diinginkan oleh sang pembuat kata tersebut. Semakin kata itu diterjemahkan ke dalam bahasa lain, makin jauh jarak definisi dari konteks orang pertama. Untuk menghindari penyimpangan definisi tersebut, gunakan kata yang benar-benar orisinil (bisa dilihat di KBBI),jika kita menggunakan bahasa lain untuk definisi tersebut, belum tentu konteksnya sama. (Langsung menulis respons surat dengan bahasa yang baik :))
Sepakat banget bahwa kita harus bernasionalisme dengan menonjolkan identitas kebangsaan kita.
Namun, saya ngeliat kalau berbicara bahasa inggris dengan temen-temen adalah buat ngelatih kemampuan bahasa inggris, secara gampang lupa kalu belajar bahasa lain.
Dan kenapa juga harus dilatih?
Secara realistis, bahasa inggris digunakan sebagai standar dalam berbagai hal, bukan bahasa Indonesia atau Jepang. Cita-cita saya menuntut saya untuk pandai berbahasa Inggris.
Saya cinta Indonesia, tapi saya juga harus meraih cita-cita saya.
Tergantung yang memakai bahasanya, untuk kepentingan masa depan atau gaya?
Bila ingin bernasionalisme, ada bagusnya bila kita mempertahankan budaya bangsa Indonesia : kehidupan berbudaya, santun, dll.
Meerdeka!!